Ir. Yulia Suryani: Antusiasme Warga Bukti Gerakan Pangan Murah Sangat Dibutuhkan

NEWS436 Dilihat

Lubeg Nan XX, Padang | Halaman Balai Basuo Kantor Camat Lubuk Begalung nan XX tampak lebih ramai dari biasanya. Deretan ibu rumah tangga, bapak-bapak pekerja harian, hingga lansia sudah mengantre sejak pukul 08.00 WIB. Sebagian membawa tas kain, ada yang hanya menggenggam kantong plastik, namun raut wajah mereka sama: penuh harap, Padang Sabtu, 30 Agustus 2025.

Hari itu, Kecamatan Lubuk Begalung menjadi tuan rumah Gerakan Pangan Murah (GPM) Tahun 2025. Program ini merupakan inisiatif pemerintah untuk menekan harga pangan dan memastikan masyarakat tetap bisa berbelanja hemat, meski harga kebutuhan pokok di pasar kerap berfluktuasi.

Tulisan harga yang terpampang besar di stan penjualan seolah menjadi magnet:

  • Minyak Kita Rp15.000/liter
  • Gula Rose Brand Rp17.500/kg
  • Gula Indosugar Rp17.000/kg
  • Beras SPHP Bulog Rp62.000/5 kg

Harga ini jelas lebih rendah dibanding harga pasar. Tak heran, warga rela mengantre panjang demi membawa pulang kebutuhan pokok dengan harga terjangkau.

Senyum Warga di Tengah Tekanan Harga Pasar

Salah seorang warga, Ibu Yuli (39), tampak lega setelah mendapatkan dua karung beras ukuran 5 kg. Dengan wajah sumringah ia bercerita,

“Harga pasar sekarang sudah berat, apalagi buat kami ibu rumah tangga. Alhamdulillah ada program ini, bisa meringankan belanja bulanan.”

Cerita lain datang dari Herman (52), seorang tukang ojek yang sengaja meluangkan waktu di pagi hari sebelum menerima penumpang.

“Kalau beli minyak goreng di warung bisa Rp18 ribu, di sini Rp15 ribu. Selisihnya lumayan, bisa dipakai beli kebutuhan anak,” katanya sambil mengangkat kantong plastik berisi dua botol minyak goreng.

Bagi warga menengah ke bawah, selisih harga Rp2.000–3.000 per item bukan angka kecil. Dalam satu bulan, itu bisa menghemat puluhan ribu rupiah, cukup untuk menambah kebutuhan lain.

Camat Andi Amir: Pemerintah Tidak Tinggal Diam

Camat Lubuk Begalung, Andi Amir, yang hadir langsung di lokasi, menegaskan bahwa program GPM adalah bukti nyata perhatian pemerintah.

“Kita ingin masyarakat Lubuk Begalung tetap tenang dan tidak terbebani dengan lonjakan harga kebutuhan pokok. Gerakan pangan murah ini adalah bukti bahwa pemerintah tidak tinggal diam, melainkan turun langsung membantu rakyat,” ujarnya.

Menurutnya, kegiatan seperti ini bukan hanya soal jual beli pangan murah, tetapi juga cara menjaga rasa aman di tengah masyarakat. “Ketika masyarakat tahu pemerintah hadir, mereka lebih tenang. Itu penting,” tambahnya.

Dukungan dari RT dan Tokoh Lokal

Di sela keramaian, Ketua RT 02 RW 15, Ir. Yulia Suryani, terlihat mendampingi warganya. Ia menilai program ini sangat efektif, sekaligus menjadi sarana memperkuat hubungan sosial.

“Antusias warga luar biasa, dan ini menunjukkan program semacam ini sangat dibutuhkan. Kami di tingkat RT siap mendukung dan menginformasikan kepada masyarakat agar manfaatnya semakin luas,” ungkapnya.

Sementara itu, warga Intan Raya, Buk Lilik, tak bisa menyembunyikan rasa harunya. Dengan suara bergetar ia berkata,

“Kami ibu-ibu rumah tangga sangat terbantu. Kalau bisa kegiatan ini jangan hanya sekali, tapi berkelanjutan. Harga pasar sering naik tiba-tiba, jadi program ini seperti penyelamat bagi kami.”

Pernyataan warga ini menggambarkan betapa tingginya kebutuhan terhadap GPM, terutama bagi kelompok rentan yang paling terdampak oleh kenaikan harga pangan.

Dampak Ekonomi: Dari Rumah Tangga hingga Inflasi Daerah

Program GPM sejatinya bukan hanya sekadar menjual pangan dengan harga murah. Di balik itu ada misi besar: menjaga stabilitas harga pangan agar inflasi tetap terkendali.

Data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan bahwa harga beras, gula, dan minyak goreng adalah tiga komoditas yang paling sering menyumbang inflasi di daerah. Dengan masuknya Bulog ke pasar lewat skema GPM, tekanan harga dapat ditekan sehingga daya beli masyarakat tetap terjaga.

“Kalau harga di pasar bisa diseimbangkan lewat operasi pasar dan gerakan pangan murah, otomatis inflasi pangan bisa terkendali. Dampaknya bukan hanya ke masyarakat kecil, tapi juga ke stabilitas ekonomi daerah,” ujar seorang pejabat Bulog Sumbar yang turut hadir.

Suasana Kekeluargaan di Balik Antrean

Selain manfaat ekonomi, GPM juga menghadirkan suasana kekeluargaan. Warga dari berbagai kelurahan bertemu, berbincang, bahkan saling bertukar tips memasak hemat. Anak-anak yang ikut orang tuanya tampak ceria berlarian di halaman, sementara panitia sibuk mengatur antrean agar tetap tertib.

Kegiatan ini seolah menjadi “pasar rakyat” yang berbeda: tidak hanya soal transaksi, tetapi juga tentang kebersamaan dan rasa senasib sepenanggungan.

Penutup: Bukan Sekadar Murah, Tapi Jaminan Kehadiran Negara

Menjelang siang, antrean mulai menipis. Wajah lega dan bahagia terpancar jelas dari warga yang pulang membawa belanjaan: karung beras di pundak, botol minyak goreng di tangan, serta gula pasir di dalam kantong plastik.

Gerakan Pangan Murah di Lubuk Begalung membuktikan satu hal penting: pemerintah hadir bukan hanya lewat kebijakan di atas kertas, tetapi lewat langkah konkret di lapangan.

Di tengah gejolak harga pasar, warga mendapatkan rasa aman—bahwa kebutuhan dasar mereka tetap dijaga. Dan di sanalah arti sebenarnya dari sebuah program: bukan sekadar angka, tetapi kehidupan rakyat yang lebih tenang dan sejahtera.

Wyndoee

banner 336x280

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *